Total Pageviews

Sunday, April 14, 2013

KEBISINGAN


K  E  B  I  S  I  N  G  A  N



1.      Pendahuluan
Kondisi lingkungan yang tidak sehat merupakan aspek yang berdampak buruk baik bagi masyarakat umumnya maupun bagi tenaga kerja. Lingkungan yang sehat akan berpengaruh pada gairah hidup dan motivasi bagi masyarakat. Aspek lingkungan yang mempengaruhi gairah dan motivasi baik bagi masyarakat umumnya maupun tenaga kerja khususnya adalah Lingkungan Fisik, Kimia dan Sosial. Salah satu faktor fisik yang sering dijumpai ditempat kerja dan lingkungan adalah kebisingan. Kebisingan merupakan masalah kesehatan kerja yang selalu timbul, baik pada industri besar seperti pabrik-pabrik maupun industri rumah tangga.
Meskipun demikian, kesadaran akan bahaya kebisingan masih kurang dipahami baik oleh kalangan masyarakat umum maupun para pekerja khususnya. Tidak jarang ditemukan bahwa keluhan akibat terjadinya gangguan pendengaran hanya dikaitkan dengan semakin bertambahnya usia atau karena sebab lain dan bukan karena pekerjaan di lingkungan bising.
Bunyi adalah sesuatu yang tidak dapat hindari dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan umumnya maupun di lingkungan kerja. Kebanyak bunyi yang terekam melalui telinga merupakan bagian dari pekerjaan. Tetapi sering bunyi-bunyi tersebut tidak kita inginkan. Contoh teriakan orang, bunyi mesin diesel yang melebihi ambang batas pendengan.
Kualitas bunyi sangat ditentukan oleh frekuensi dan intensitasnya. Frekuensi dinyatakan dalam jumlah getaran per detik yang disebut Hertz (Hz) yaitu jumlah gelombang-gelombang yang sampai di telinga setiap detiknya. Biasanya suatu kebisingan terdiri dari campuran sejumlah gelombang dari berbagai macam frekuensi. Sedangkan intersitas dinyatakan dalam suatu logarit yang disebut desibel (dB). Dengan ukuran intensitas inilah dapat ditentukan apakah bunyi termasuk bunyi yang bising atau tidak.
Dari ukuran-ukuran inilah dapat diklasifikasikan seberapa jauh bunyi-bunyi disekeliling kita yang yang dapat diterima atau dikehendaki atau tidak dikehendaki (bising). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tebel 1. dibawah ini.
Tabel1. Skala Intensitas Kebisingan
Skala Intensitas
Desibel
Sumber Kebisingan

120
Halilintar
Menulikan
110
Meriam

100
Mesin Uap

90
Perusahan sangat gaduh

80
Kantor Gaduh
Sangat hiruk
70
Jalan pada umumnya

60
Rumah gaduh
Sedang
50
Kantor umumnya 

40
Radio perlahan
Tenang
30
Rumah tenang

20
Percakapan

10
Suara-suara daun berisik
Batas terendah
0

Sumber: Notoatmodjo (1996) dan Chandra (2007)

2.      Pegertian Kebisingan
Bunyi yang tidak kita inginkan atau kehendaki inilah yang sering disebut bising atau Kebisingan. Kebisingan dapat pula diatikan suara atau bunyi yang salah pada tempat dan waktu yang salah.
Pengertian kebisingan banyak dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain :
(a).     Menurut Dennis, bising adalah suara yang timbul dari getaran – geteran yangh tidak teratur
(b).     Menurut Hirrs dan Ward, bising adalah suara yang kompleks yang mempunyai sedikit ataupun tidak mempunyai periodik, bentuk gelombang tak dapat diikuti atau diproduksi lagi dalam waktu tertentu.
(c).     Menurut Spooner, bising adalah suara yang tidak mempunyai kualitas musik.
(d).     Menurut Burn, Little and Wall, bising adalah suara yang tidak dikehendaki kehadirannya oleh yang mendengar dan mengganggu.
Kebisingan dapat ditimbulkan oleh berbagai kegiatan/ aktivitas. Penyebab timbulnya bising dapat dibedakan atas :
1.        Bising yang ditimbulkan oleh industri.
2.        Kemajuan transportasi : jalan lalu lintas, lalu lintas udara
3.        Elektrifikasi pada pemukiman.
4.        Mekanisme lain yang menimbulkan bising : penambangan, penggalian dll
5.        Miscellaneous Source : dari lapangan olah raga, daerah wisata, mesin pemotong rumput, dll.
Berdasarkan kontinuitas, intensitas, dan spektrum frekuensinya suara yang ada dapat dikelompokkan menjadi :
a)    Steady state and narrow band noise, yakni kebisingan yang terus menerus dengan spektrum suara yang sempit seperti suara mesin dan suara kipang angin.
b)    Nonsteady state and narrow band noise, yakni yakni kebisingan yang tidak terus menerus dengan spektrum suara yang sempit seperti suara mesin gergaji dan katup uap.
c)    Kebisingan intermiten, yakni kebisingan semacam ini terjadi sewaktu-waktu dan terputus, misalnya suara pesawat terbang dan kereta api.
d)    Kebisingan impulsif, yakni kebisingan yang impulsif atau yang menekan telinga, misalnya bunyi tembakan bedil, meriam atau ledakan bom.

3.      Dampak  Kebisingan
Telinga manusia hanya mampu menangkap suara yang ukuran intensitasnya berkisar antara 20-20.000 Hz dengan frekuensi suara sekitar 80 dB (batas aman). Pajanan terhadap suara atau bunyi yang melampaui batas aman di atas dalam waktu yang lama dapat berdapak buruk bagi manusia. Adapun dampak kebisingan adalah :


(a)      Dampak terhadap Kesehatan
Bising dapat mempengaruhi kesehatan manusia, pengaruhnya berupa :
1.     Kerusakan pada indra pendengar yang dapat menyebabkan ketulian progresif. Efek kebisingan biasanya bersifat sementara dan pemulihan dapat terjadi secara cepat, namun apabila seseorang terpajan secara kontinyu maka akan berdampak pada hilangnya daya dengar yang sifatnya permanen.
2.     Terjadinya peningkatan sensivitas tubuh seperti peningkatan sistem kardiovaskuler dimana terjadi kenaikan tekanan darah dan peningkatan denyut jantung. Dan apabila hal ini berlangsung dalam waktu yang lama akan berdampak pada penurunan konsentrasi dan kelelahan, dan dampat psikolgi seperti mudah tersinggung/lekas marah, susah tidur, dll.
3.     Kebisingan dapat pula menyebabkan perubahan pada sekresi hormon hipofisa, perubahan pada reaksi imunologi tubuh dan peningkatan sensivitas terhadap epinrpin dan non-epineprin pada sistim vaskular.

(b)      Dampak Terhadap Produktivitas Kerja
Kebisingan selain berdampak pada kesehatan berimplikasi juga terhadap produktivitas kerja. Hasil penelitian menunjukkan dampak negatif kebisingan terhadap produktivitas kerja adalah :
1.     Gangguan. Pada umumnya kebisingan bernada tinggi sangat mengganggu apalagi kebisingan yang terputus-putus atau yang datang secara tiba-tiba (tidak terduga) dan akan sangat terasa jika sumber kebisingan tidak diketahui sumbernya.
2.     Komunikasi denga pembicaraan. Dampak nagatif potensial bagi pendengan jika komunikasi dengan cara berteriak. Pembicaraan dengan cara tersebut dapat menyebabkan menyebabkan kesalahan dan kecelakaan kerja terutama pada pekerja baru.
3.     Efek pada pekerjaan. Kebisingan dapat mengganggu konsentrasi pekerja pada pekerjaannya karena dapat menyebabkan reaksi psikologi dan kelehan. Pekerjaan yang banyak menggunakan otak sebaiknya kebisingan ditekan serendah mungkin.
4.     Rekasi masyarakat.  Kebisingan akibat suatu proses produksi yang demikian hebatnya pengaruhnya pasti sangat besar. Masyarakat sekitar pun pasti mengajukkan dan menuntut agar kegiatan produksi tersebut segera dihentikan.

4.      Pengendalian Kebisingan
Kebisingan baik dilingkungan yang luas maupun dilingkungan kerja dapat dikendalikan dengan berbagai cara. Adapun beberapa cara untuk mengendalikan sumber kebisingan diataranya adalah :
(a)      Mengurangi sumber kebisingan, dengan jalan menempatkan peredam suara pada sumber kebisingan, melakukan modifikasi mesin atau bangunan, mengganti mesin dan menyusun perencanaan bangun baru.
(b)      Menempatkan penghalang pada jalan transmisi suara dengan jalan isolalasi ruangan kerja dengan ruangan mesin. Agar upaya tersebut efektif maka bahan yang dugunakan untuk menutup harus kuat dan dilapisi oleh bahan penyerap suara sehingga tidak menimbulkan getaran.
(c)       Perlindungan dengan menggunakan sumbat atau penyumbat telinga. Tutup telingan biasanya jauh lebih efektif dibandingkan penyumbat telinga. Alat semacam ini dapat mengurangi intensitas kebisingan sampai sekitar 20-25 dB.

5.      Instrument dan Metoda Pengukuran Kebisingan
(a). Instrumen untuk mengukur kebisingan
Alat utama untuk mengukur tingkat kebisingan adalah sound level meter. Alat ini berfungsi mengukur kebisingan antara 20-20.000 Hz. Dalam alat ini sudah terpasang sistem kalibrasi tersendiri. Sedangkan untuk analisis frekuensi biasanya menggunakan alat oktave band analyser. Sedangkan untuk analisis lebih lanjut digunakan narrow band analyser.
Untuk kebisingan yang terputus-putus biasanya direkam lebih dahulu dengan menggunakan tape recorder berkualitas tinggi yang mampu merekam suara dengan frekuensi antara 20-30 KHz. Kaset tersebut kemudian dibawah ke laboratorium dan dianalisis. Untuk kebisingan yang sifatnya impulsif pengukuran dapat menggunakan alat impact noise analyser.
(b). Metoda Pengukuran
Cara Pengukuran :
a.    Di kantor : 
-          Pengukuran dilakukan dengan memperkirakan posisi telinga pekerja. Pengukuran dilakukan pada posisi yang mewakili tempat para pekerja bergerak dan 1,2 – 1,5 m diatas lantai.
-          Sound Level Meter didekatkan pada sumber bising selama ± 10 mnt, lihat hasilnya.
b.        Di lingkungan umum ( pengukuran di luar/ di jalan )
-          Posisi pengukuran dipilih pada tepi jalan.
-          Sound Level Meter diarahkan kearah tengah jalan, dan pada ketinggian 1,2 – 1,5 m diatas tanah.
-          Pengukuran dilakukan sebanyak 7 kali pengukuran
-          Dengan Integrating Sound Level Meter, dengan waktu ukur setiap 5 detik, dilakukan pengukuran selama 10 menit.
-          Waktu pengukuran dilakukan selama aktifitas 24 jam ( Lsm) dengan cara pada siang hari tingkat aktifitas yang paling tinggi selama 16 jam (Ls) pada selang waktu 06.00 – 22.00 dan aktifitas malam hari selama 8 jam (Lm) pada selang 22.00 – 06.00.
-          Setiap pengukuran harus dapat mewakili selang waktu tertentu dengan menetapkan paling sedikit 4 waktu pengukuran pada siang hari dan pada malam hari paling 3 waktu pengukuran.
-          Waktu pengukuran tersebut terdiri atas :
 L1 diambil pada jam 07.00 mewakili jam 06.00 – 09.00
L2 diambil pada jam 10.00 mewakili jam 09.00 – 14.00
 L3 diambil pada jam 15.00 mewakili jam 14.00 – 17.00
 L4 diambil pada jam 20.00 mewakili jam 17.00 – 22.00
 L5 diambil pada jam 23.00 mewakili jam 22.00 – 24.00
 L6 diambil pada jam 01.00 mewakili jam 24.00 – 03.00
 L7 diambil pada jam 04.00 mewakili jam 03.00 – 06.00

2.        Hasil Perhitungan
Ls           = 10 log 1/16 ( T1.10 0,1L1 + ... + T4.100,1L4 ) dB(A)
Lm          = 10 log 1/8 ( T5.10 0,1L5 + ... + T7.100,1L7 ) dB(A)
Lsm        =  10 log 1/24 ( 16.10 0,1Ls + 8.100,1Lm +5 ) dB(A)
Keterangan :
Ls           = Leq selama siang hari
Lm          = Leq selama malam hari
Lsm        = Leq selama siang dan malam hari
T = waktu pengukuran selam 10 mnt = 1/6 jam

6.    Standar Yang Dipergunakan
1.     Keputusan Menaker Nomor 51 / Men / 1999 tanggal 16 April 1999, untuk waktu pemajanan 8 jam , Intensitas Kebisingan yang diperbolehkan tidak melebihi 85 dBA.
Waktu Pemejanan
Intensitas Kebisingan (dB)
8 jam
85
4 jam
88
2 jam
98
1 jam
91
30 menit
94
15 menit
97
7,5 menit
100
3,75 menit
106
1,88 menit
109
0,94 menit
112
28,12 detik
115
14,06 detik
118
7,03 detik
121
3,52 detik
124
1,76 detik
127
0,88 detik
130
0,44 detik
133
0,22 detik
136
0,11 detik
139

2.     Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep-48 / MENLH / 1996 tanggal 25 Nopember 1996
BAKU TINGKAT KEBISINGAN
PERUNTUKAN KAWASAN /                                     Tingkat Kebisingan db(A)
LINGKUNGAN KEGIATAN
  1. Peruntukan kawasan                                                           
  1. Perumahan dan pemukiman                                   55
  2. Perdagangan dan jasa                                             70
  3. Perkantoran dan perdagangan                                65
  4. Ruang terbuka hijau                                               50
  5. Industri                                                                   70
  6. Pemerintahan dan fasilitas umum                          60
  7. Rekreasi                                                                 70
  8. Khusus :
-          Bandar Udara*
-          Stasiun kereta api*
-          Cagar budaya                                                            60
-          Pelabuhan laut                                                          70
  1. Lingkungan Kegiatan
  1. Rumah sakit atau sejenisnya                                  55
  2. Sekolah atau sejenisnya                                         55
  3. Tempat ibadah atau sejenisnya                              55